ARTIKEL — July 29, 2020

Internet of Things: Definisi, Sejarah, Manfaat & Penerapan

Ingin bisnis Anda berkembang di era New Normal? Jawabannya adalah Internet of Things atau lebih sering disebut IoT.

Semenjak pandemi berlangsung, banyak perusahaan kesulitan menjaga produktivitas usaha akibat minimnya kehadiran karyawan secara fisik. Hal ini menghambat pemantauan kondisi barang, memperlambat perencanaan operasi bisnis, dan mempersulit pemeriksaan hasil kerja karyawan. Akibatnya, perusahaan tak hanya harus menghadapi perubahan pasar, namun kebijakan operasional pun harus berubah demi menjaga kelangsungan usaha.

Adaptasi cepat harus dilakukan untuk menawarkan solusi operasional dan transaksi jarak jauh yang efisien khususnya di masa transisi ini. Internet of Things dapat menambahkan efisiensi yang membuat bisnis Anda tanggap dan kuat menghadapi berbagai perubahan di New Normal.

Namun, bagaimana cara IoT menambah efisiensi tersebut? Artikel ini akan membahas secara non-teknis definisi, sejarah, manfaat, serta contoh penerapan teknologi Internet of Things pada bisnis.

Apa Itu Internet of Things

Secara garis besar, Internet of Things atau IoT adalah teknologi komunikasi antar mesin dengan menggunakan koneksi internet. Bentuk komunikasi pintar ini juga disebut Machine-to-Machine (M2M) dengan manusia sebagai pengelola dan penggunanya.

Seperti halnya handphone bisa menjadi smartphone karena terkoneksi dengan internet, mesin dan peralatan usaha juga bisa menjadi pintar karena terkoneksi dengan internet. Mesin di pabrik, peralatan perbankan, kamera keamanan di ruang publik, bahkan sensor di ladang pertanian, semua bisa menjadi smart devices.

Internet of Things tidak terbatas pada konteks industri saja, namun bisa juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti home voice control, bell pintu, lampu pintar, monitor polusi ruangan, dan sebagainya.

Ketika berbagai aset bisnis Anda terkoneksi dengan internet, Anda bisa mendapatkan informasi mendetil mengenai kondisi bisnis Anda yang terkini atau secara real-time. Sehingga, perencanaan operasional, pemantauan kinerja kerja, dan pemeliharaan kualitas barang bisa dilakukan berlandaskan data yang tepat.

Sejarah dan Perkembangan Internet of Things

Sebelum tanki bensin IoT, sensor listrik NB-IoT, atau smart TV, perangkat pertama yang terkoneksi dengan internet adalah… pemanggang roti!

Di tahun 1989, John Romkey dan Simon Hackett mengkoneksikan sebuah pemanggang roti ke Internet yang bisa bekerja sesuai komando dari komputer. Saat itu konsep ini dikenal dengan sebutan “embedded internet” atau “pervasive computing”. Namun, di tahun 1999 istilah Internet of Things dicetuskan oleh Kevin Ashton mengikuti peluncuran teknologi RFID atau Radio-Frequency Identification.

Perkembangan IoT pun dimulai. Dari inovasi RFID yang memungkinkan pelacakkan barang lewat frekuensi radio secara jarak jauh, berlanjut ke berbagai inovasi dalam obyek display data berbetuk bola berwarna atau robot kelinci, lalu dimulainya penggunaan Internet Protocol (IP) dalam jaringan smart objects tahun 2008, dan IPv6 di tahun 2011 yang memberikan informasi identitas dan lokasi sebuah perangkat dalam jaringan internet.

Teknologi IoT terus berkembang hingga sekarang. Seperti yang ditunjukan pada gambar Hype-Cycle hasil riset Gartner 2019 berikut ini, ekspektasi market untuk IoT sudah cukup mature sehingga dalam 5-10 tahun teknologi ini akan semakin stabil dan diterima market secara luas. Memasuki generasi ke 2 dan 3, resiko penerapan IoT akan semakin kecil dan 20% dari target market akan menggunakan IoT. 

No alt text provided for this image

Manfaat Internet of Things

Mesin yang saling berkomunikasi ini mampu mempermudah proses usaha karena, berbeda dengan manusia, mesin tidak perlu berisitirahat. Mesin dapat bekerja 24 jam penuh tanpa istirahat. Sehingga, menghemat tenaga kerja dan waktu. Hasil kerja device IoT juga tercatat secara otomatis dengan rinci, dan parameter kerjanya bisa dikelola dari jarak jauh sehingga menghemat tenaga. Pengelolaan yang mudah ini akan menghemat biaya operasional dan memudahkan perencanaan usaha.

Lebih dari sekedar alat, Internet of Things adalah solusi teknologi yang akan memberikan segi baru pada kegiatan usaha yaitu visibilitas. Dengan solusi IoT, pemilik usaha bisa mengetahui kondisi usahanya di waktu tersebut (real-time). Misalnya, solusi Managed SD-WAN menunjukan penggunaan data internet di cabang usaha dan memberikan kontrol pengelolaan traffic internet pada kantor pusat. Contoh lainnya, solusi Asset Performance Management (APM) memberikan visibilitas pada kondisi fisik aset seperti temperatur, kelembaban, pencahayaan, di mana pun lokasi aset.

Visibilitas melancarkan jalur komunikasi di perusahaan, memudahkan monitoring, menguatkan keamanan, dan memastikan semua perencanaan dilakukan berdasarkan data konkrit dari solusi IoT.

Cara Kerja Internet of Things

Seperti namanya, Internet of Things bergantung pada Internet sebagai konektivitas antara sensor atau perangkat yang akan saling berkomunikasi di cloud. Data dari sensor yang dikirim ke cloud akan diproses oleh software yang akan menentukan action selanjutnya. Action ini bisa berbentuk pengiriman alert, penyesuaian jadwal, penutupan akses pada alat, atau lainnya.

Solusi IoT dapat dikontrol oleh user lewat dashboard dari komputer, laptop, atau mobile device lainnya. User atau pegawai yang sudah diberikan izin dapat mengatur dan mengubah action dan rules sesuai kebutuhan perusahaan. Perubahan ini akan dikirim lagi ke cloud lalu sensor yang berkaitan akan segera ter-update. Kita akan membahas setiap bagian pada sistem IoT ini di segmen berikutnya.

Unsur Pembentuk Internet of Things

Teknologi seperti Artificial Intelligence, Machine Learning, dan Computer Vision bisa ditambahkan ke sistem IoT. Namun pada bentuk yang paling sederhana, inilah 4 elemen utama yang membentuk sebuah sistem IoT:

Sensor atau device

Solusi IoT memiliki berbagai bentuk. Terkadang sebuah device memiliki lebih dari 1 sensor. Contohnya, solusi manajemen aset likuid, INTANK, memiliki sensor temperatur dan sensor pengukur level likuid. Solusi monitoring aset seperti APM memiliki 2 device bersensor yang diletakan di aset dan di ruangan atau alat transportasi aset.

Sesuai dengan kegunaan masing-masing, sensor-sensor ini bertugas mengumpulkan data setiap saat, sesuai interval waktu yang ditentukan. Karena sensor mengumpulkan data berukuran kecil, baterai pada device bisa lebih tahan lama, seperti sensor NB-IoT bisa bertahan selama 10 tahun tanpa ganti baterai.

Konektivitas

Tanpa konektivitas, data pada device tidak akan sampai ke sistem. Sarana komunikasi device dengan sistem IoT bisa beragam. Koneksi selular, satelit, WiFi, bluetooth, low power wide area network (LPWAN), dan lainnya.

Pemilihan konektivitas selalu disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Untuk industri yang menggunakan banyak device kecil di area yang luas seperti pada pertanian dan penyaluran listrik, LPWAN adalah jenis konektivitas tepat. Sedangkan untuk industri finansial yang memerlukan keamanan tinggi, SD-WAN dan Managed Service Connectivity.

Data processing

Saat data dari sensor masuk ke cloud, processing pun dimulai. Karena data selalu datang dan selalu diperbaharui, software bisa melihat perkembangan aset secara real-time dan memastikan aktivitas aset sesuai rule/parameter yang telah ditentukan.

Prosesnya bisa sederhana seperti memastikan tanggal maintenance truk pengiriman di solusi FleetSight. Bisa juga kompleks seperti mengidentifikasi penggunaan masker atau Alat Pelindung Diri (APD) di ruang publik lewat gambar dari kamera security berteknologi Computer Vision.

Proses ini terjadi sangat cepat dan segera mengaktifkan action instan seperti memberi notifikasi pada manajer armada tentang kebutuhan maintenance sebuah truk atau menotifikasi petugas keamanan tentang orang yang tidak mengenakan APD di area yang telah ditentukan.

Dashboard atau User Interface

Dashboard adalah tempat data ditampilkan agar user dapat mengamati aktivitas real-time yang terjadi pada seluruh device dalam perusahaan. Di sini user juga dapat mengubah pengaturan, rules, dan action yang dilakukan oleh sistem IoT.

Misalnya, dengan menggunakan fitur Location Information (LOCI) sebagai tracker lokasi device, Anda bisa membuat aturan atau rule bahwa mesin EDC tidak bisa keluar dari toko. Lalu, Anda bisa menentukan action otomatis yang akan terjadi jika rule ini dilanggar. Dalam kasus ini, Anda bisa mematikan koneksi SIM card pada EDC untuk memastikan tidak ada pencurian data. Fitur ini bernama “set and forget automation” yang memerintahkan sistem untuk selalu menggunakan action yang sama saat skenario serupa terjadi.

Dashboard solusi Telkomsel IoT dapat diakses 24 jam dari browser di laptop atau handphone. Sehingga, di manapun Anda berada, Anda bisa memantau aktivitas usaha dari jarak jauh. User interface yang sederhana memudahkan pegawai untuk mengelola dengan cepat dan mengerti data yang paling komprehensif.

Contoh Penerapan IoT Pada Sektor Bisnis